Siapa Saja yang Terlibat Dalam Influencer Marketing

Pemasaran tradisional biasanya hanya melibatkan dua pihak. Brand langsung menyampaikan pesan pemasarannya pada audience. Kalaupun pesan itu disampaikan dalam bentuk iklan yang melibatkan selebriti misalnya, dalam konteks itu si selebriti berada di sisi brand. Semua yang terlibat dalam proses produksi dan penayangannya hanya bersifat pendukung saja.

Sementara influencer dalam influencer marketing sifatnya independen. Influencer dibayar oleh brand untuk “berbicara” kepada followernya sebagai dirinya sendiri, dengan pendapat dan pikirannya sendiri, menggunakan bahasa dan gaya bicaranya sendiri. Karena itu influencer marketing melibatkan tiga pihak.

(1) Brand

Brand adalah perusahaan atau entitas lain yang menawarkan produk atau jasa dan memiliki merk. Spesifik dalam dunia influencer marketing, brand memiliki makna yang agak berbeda.

Agar produk brand dibeli konsumen, brand perlu membangun brand awareness dengan cara secara konsisten menyampaikan pesan-pesan pemasaran melalui promosi.

Untuk membuat calon konsumen tahu keberadaan produk dan informasi teknis terkait seperti bentuk, harga, warna, ukuran, kapasitas, dan lain-lain, informasi langsung dari produsen mungkin sudah cukup. Pilihan metode penyampaiannya juga banyak, misalnya dengan iklan, brosur, informasi pada website, dan lain-lain.

Tapi konsumen juga harus diyakinkan tentang aspek-aspek lain seperti kesesuaian fitur dan kebutuhan calon konsumen, kualitas produknya sendiri maupun layanan purna-jualnya, kemudahan penggunaannya, apakah harganya sesuai dengan manfaat dan kualitasnya, dan sebagainya. Untuk hal-hal seperti ini, konsumen cenderung tidak mempercayai brand.

(2) Influencer

Sejumlah riset menunjukkan bahwa untuk hal-hal yang disebut terakhir tadi, netizen cenderung lebih mempercayai jaringan social medianya. Angka-angka riset itu sangat signifikan. Selain itu sejumlah riset yang dilaksanakan oleh entitas berbeda memberikan hasil yang konsisten. Karenanya fenomena ini bukan lagi sekedar hipotesis tapi sudah diterima sebagai kebenaran.

81% of consumers’ purchasing decisions are influenced by their friends’
social media posts. ~ Forbes

66% consumers have been inspired to purchase from a new brand after seeing
social media images from other consumers. ~ Stackia

Consumers are 71% more likely to make a purchase based
on social media referral. ~ Hubspot

Karena itulah kemudian brand menjalin kerjasama dengan netizen yang dinilainya memiliki kemampuan untuk menyuarakan brand story mereka.

Pada mulanya brand menjalin kerjasama dengan mereka yang memiliki jumlah follower besar, mega-influencer, dengan asumsi pesan yang disampaikan akan mencapai jumlah audience yang besar pula. Sampai di titik itu, asumsi mereka memang benar dan tujuan mereka tercapai. Pesan pemasaran mereka dapat mencapai audience dalam jumlah yang masif hanya dengan bantuan satu atau beberapa influencer saja.

Bukan rahasia lagi kalau pengguna social media yang memiliki jumlah follower sangat besar rata-rata selebriti dari berbagai latar belakang profesi.

Netizen dengan cepat sadar kalau banyak brand voice yang disuarakan mega-influencer yang mereka follow adalah endorsement, pesan sponsor, iklan biasa yang menggunakan social media sebagai salurannya. Karena itu sebagian besar netizen menganggap endorsement selebriti 11-12 dengan promosi brand itu sendiri.

Ujung-ujungnya meskipun jangkauannya luas, engagement-nya kecil, konversinya apalagi.

Sekarang banyak brand lebih memilih untuk menjalin kerjasama dengan nano dan micro-influencer, yang jumlah followernya relatif kecil tetapi hubungan sosial dan emosionalnya lebih kuat, tingkat kepercayaannya lebih tinggi, sehingga kemampuannya mempengaruhi pilihan dan keputusan pembelian lebih besar.

(3) Audience

Dari sudut pandang berbeda kita bisa punya terminologi berbeda untuk merujuk pada audience. Dari kacamata influencer, mereka itu follower. Dari perspektif brand mereka calon konsumen. Semua benar. Audience ini memang followernya influencer yang menjadi target audience dari pesan pemasaran yang dipromosikan brand.

Di ranah social media, audience ini bisa sangat luas dan tidak semua merupakan target audience potensial bagi setiap brand. Tetapi seperti halnya di dunia nyata, di social media juga orang cenderung menjalin hubungan dekat dengan mereka yang memiliki kesamaan dalam macam-macam aspek. Mereka yang hobi travelling kebanyakan followernya juga traveller. Mereka yang hobi main mobil teman-temannya di social media kebanyakan penghobi otomotif. Dan sebagainya.

Dalam istilah pemasaran yang juga diadopsi di dunia digital marketing termasuk influencer marketing, itu dikenal dengan istilah “niche”.

Brand biasanya mengidentifikasi niche dengan menganalisa profil influencer yang akan diajak bekerjasama. Brand hotel misalnya, akan mencari influencer yang niche-nya travelling. Karena sebagian temannya pasti juga penghobi jalan-jalan dan karenanya menjadi target market ideal untuk hotel.

(4) Management

Orang asing di luar loop yang turut kecipratan cuan. Hehehe.

Kalau di dunia periklanan kita mengenal talent management yang menaungi para model, dalam dunia influencer juga ada management.

Mengelola kerjasama dengan satu, dua, atau sepuluh mega influencer yang masing-masing memiliki jumlah follower banyak mungkin tidak terlalu menyulitkan. Tapi mengelola kerjasama dengan seratus, dua ratus, bahkan ribu nano dan micro-influencer yang masing-masing followernya sedikit tentu mudah membuat kewalahan.

Tapi itu terpaksa dilakukan untuk menjangkau jumlah audience yang luas. Untuk menjangkau jumlah audience yang sama dengan satu mega-influencer dengan follower 1.000.000 kita harus bekerjasama dengan 100 micro-influencer yang rata-rata masing-masing memiliki hanya 10.000 follower.

Management berperan membantu brand mengelola kerjasama dengan influencer dan membantu influencer mendapatkan “job” dari brand.

(5) Platform

Sekarang sudah mulai bermunculan platform-platform yang membuat fungsi management ini diambil alih oleh sistem digital yang bekerja secara otomatis. Baik brand maupun influencer tidak perlu lagi berurusan dengan management untuk bisa mendapatkan manfaat dari kerjasama influencer marketing.

Masing-masing platform mengusung model bisnis berbeda-beda.

BacktoBALI.id merupakan platform yang menjembatani kerjasama antara brand dan influencer dengan model “commission-based” dimana influencer mempromosikan produk-produk yang disediakan brand melalui platform melalui jaringan social medianya.

Untuk jasanya itu influencer, yang di BacktoBALI.id disebut social seller, akan mendapatkan komisi dalam hitungan persentase dari penjualan yang dihasilkan melalui link campaign yang dia share.

By admin

One thought on “Siapa Saja yang Terlibat dalam Influencer Marketing”

Comments are closed.