Sekarang kita membatasi bahasan kita pada social seller ya. Jadi kita bisa lupakan celebrity influencer papan atas dunia yang per post bisa dibayar jutaan dolar atau celebrity influencer tanah air yang konon tarif per postnya bermain di angka ratusan juta.

Social seller adalah wilayah kekuasaan kita, netizen biasa yang menggunakan social media untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang kita kenal dan karenanya jumlah followernya juga tidak seberapa. Berapa banyak sih kita bisa punya teman? Bukankah Facebook saja membatasi jumlah teman yang kita miliki hanya sampai 5.000 orang saja? Artinya itulah jumlah maksimum teman yang bisa kita miliki dalam kehidupan sehari-hari yang wajar.

Apa macro atau mega-influencer tidak boleh jadi social seller?

Ya boleh-boleh saja. Tapi tidak akan efektif. Kita sudah pernah membahas, bahkan banyak brand saat ini lebih memilih bekerja sama dengan nano dan micro-influencer. Alasan utamanya adalah karena pola pertemanan nano dan micro-influencer. Follower pada umumnya mengenal nano dan micro-influencer secara pribadi dan itu mempengaruhi tingkat kepercayaan follower terhadap informasi, saran, atau rekomendasi yang disampaikan nano dan micro-influencer.

Nah kalau untuk mempengaruhi persepsi saja nano dan micro-influencer dianggap lebih efektif karena memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari followernya, apalagi untuk menghasilkan penjualan. Tanpa tingkat kepercayaan tinggi yang umumnya hanya dimiliki nano dan micro-influencer, mana mungkin macro dan mega-influencer bisa menjadi social seller yang efektif?

Jadi sepakat ya, social seller adalah dunianya nano dan micro-influencer.

Nah, sekarang ini sekedar perbandingan untuk memberi kalian semangat menjadi social seller. Berapa sih menghasilan per post yang bisa didapat nano dan micro-influencer yang jumlah followernya katakanlah 1.000 orang? Mungkin hanya antara 50.000 sampai 100.000 saja. Itupun belum tentu dalam bentuk uang. Bisa jadi diberikan dalam bentuk pulsa atau lainnya. Murah banget!

Coba kalau influencer yang sama, memiliki 1.000 follower itu menjadi social seller BacktoBALI.id. Misalnya saja dia membuat content lalu memposting dengan mempromosikan link salah satu produk merchant BacktoBALI.id. Kita pakai contoh sajalah produk pariwisata yang merupakan primadonanya Bali jadi peminatnya pasti banyak. Sanctoo Villas & Suites yang mempromosikan voucher menginap seharga Rp. 700.000 dan menawarkan komisi 10% bagi social seller yang menghasilkan penjualan.

Algoritma social media membatasi jangkauan content dimana content yang kita post hanya akan dilihat oleh sebagian kecil follower saja. Umumnya berada di kisaran belasan persen, tapi katakanlah 10%, artinya 100 orang follower kamu melihat postinganmu. Content dan copywriting kamu bagus, sehingga dikombinasikan dengan tingkat kepercayaan follower kepadamu, 10% dari yang melihat itu membeli, artinya 10 orang.

Mana ada sih orang berlibur di Bali hanya sehari saja. Mungkin rata-rata seminggu lah. Tapi basanya seminggu itu dibagi-bagi juga, nggak hanya menginap di satu tempat saja. Di rata-ratakan saja, masing-masing menginap 2 malam. Kita belum memperhitungkan kalau banyak orang berlibur bersama keluarga hingga mereka perlu lebih dari satu kamar hotel. Artinya terjual 20 voucher. Nilai total penjualan Rp. 14.000.000. 10% komisi nilainya Rp. 1.400.000.

Satu kali post menghasilkan 1.4 juta untuk influencer yang hanya memiliki 1.000 follower itu mahal banget lho. Bagaimana kalau kamu posting jualannya sehari sekali saja? Selainnya posting hal-hal lain seperti yang biasa kamu lakukan dalam bersosialisasi sehari-hari.

Tapi Dunia Tidak Seindah Itu Kawan!

Nah ini tantangannya. Kamu bisa mendapatkan jauh lebih banyak dari skenario tadi. Tapi bisa juga tidak mendapatkan apa-apa. Jangan salah. Meskipun sebagai nano atau micro-influencer kamu mendapat tingkat kepercayaan tinggi dari followermu, membuat posting yang menarik perhatian mereka lalu membuat mereka membeli tidak semudah membalik telapak tangan.

Kamu harus pandai membuat konten yang menarik dan menulis copywriting yang membuat orang tertarik untuk membeli tanpa merasa dijualin. Nah itu! Bingung nggak? Membuat orang tertarik untuk membeli tanpa merasa dijualin, bisa?

Inget lho. Kita itu dijualin pedagang atau sales keliling aja males. Bisa dibayangin dong rasanya dijualin temen sendiri! Kalau follower merasa dijualin, bukannya membeli mereka malah kabur dan kamu nggak bisa jualan lagi.

Kalau kamu lebih serius, kamu bisa membangun kredibilitas yang membuat kamu dianggap sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih dalam niche tertentu.

Di social media kamu pasti sering melihat atau malah mungkin banyak mem-follow sosok-sosok yang dianggap memiliki pengetahuan atau keterampilan lebih dalam bidang kecantikan, fashion, kuliner, wisata, kesehatan, dan masih banyak lagi. Cara membangunnya tentu dengan secara konsisten memposting content yang relevan dan bermanfaat. Bisa memberi informasi, edukasi, inspirasi, untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi follower sehari-hari atau membuat hidup mereka lebih baik.

Semakin kamu dipandang menjadi sumber, entah itu sumber informasi, sumber inspirasi, sumber solusi, kamu akan menyandang status KOL, key opinion leader, dalam niche yang kamu geluti. Kalau sudah begini, selain jumlah followermu akan berkembang keluar dari lingkungan persahabatanmu. Kamu akan memiliki jumlah follower yang jauh lebih banyak, tetapi tingkat kepercayaannya tetapi tinggi. Tentu potensi penghasilan kamu sebagai social seller juga akan semakin meningkat.

Bayangkan saja. Kalau tadi kita berhitung dengan skenario 1.000 follower potensi penghaslannya bisa seperti itu, bagaimana kalau kamu memiliki 10.000 follower dengan tingkat kepercayaan yang sama.

Asik kan?

Sekarang kamu harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu:

  1. Apakah kamu tahu content yang menarik perhatian follower dan bisa membuatnya?
  2. Apakah kamu tahu copywriting yang menarik follower untuk membeli dan bisa membuatnya?

Kalau jawaban atas kedua pertanyaan itu “Ya.” berarti kamu siap untuk menebalkan dompet kamu sebagai social seller BacktoBALI.id. Kalau jawabannya “Tidak.” atau “Belum.” jangan berkecil hati. Di BacktoBALI.id kita bisa sama-sama mengasah pengetahuan dan keterampilan untuk membuat kamu menjadi social seller yang efektif dan produktif.

Jadi tetap semangat ya!

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.