Sejumlah riset dan survey yang dilakukan lembaga-lembaga terkemuka dunia memastikan bahwa influencer marketing akan menjadi “the next big thing” dalam aktivitas komersial di ranah digital.

Uniknya, kali ini tidak hanya pemain-pemain kelas kakap saja yang bisa meraup keuntungan. Kamu sebagai pengguna social media biasa yang selama ini hanya menggunakan social media untuk interaksi sosial dengan teman, sahabat, dan kerabat juga bisa turut memanfaatkannya untuk memperoleh penghasilan.

Saat ini di Indonesia influencer marketing mungkin masih berada di fase yang sangat awal. Dunia usaha belum banyak yang mulai menggunakannya. Tapi justru itulah mengapa kita harus mulai dari sekarang. Supaya saat trend itu mulai tumbuh disini, kita sudah siap dengan kail dan jala.

Influencer Marketing Akan Jadi “Industri Raksasa”

Hasil survey yang dilakukan dan dipublikasikan SocialPubli menunjukkan bahwa saat ini 93% marketer menggunakan influencer marketing. Survey itu memang dilakukan di luar negeri. Selain Amerika Serikat, responden survey itu tersebar di beberapa negara Eropa Barat dan Amerika Selatan.

Kalau kamu merasa belum banyak perusahaan disini yang menggunakannya, itu hanya soal waktu. Karena dalam hampir semua hal yang berhubungan dengan bisnis dan teknologi, apa yang terjadi disana akan menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kalau data survey ini belum membuat kamu bergerak, percayalah kalau dunia usaha, brand, sudah bersiap-siap mengatur rencana dan menyusun strategi.

Justru inilah saat yang tepat untuk bersiap-siap, agar saat trend itu datang, kita bisa langsung mengambil bagian sebagai “early adopter”. Karena soal trend, “follower” biasanya sulit meraih kesuksesan karena sudah kehilangan momentum.

Data lain menunjukkan bahwa volume pasar influencer marketing dunia pada tahun 2021 mencapai 13,8 miliar dollar, naik lebih dari 41% dari 9,7 miliar dolar di tahun sebelumnya. Tahun 2022 ini diperkirakan akan meningkat setidaknya menjadi 16,8 milyar dolar. Dirupiahkan sendiri aja ya. Hehehe.

Saat influencer marketing mulai tumbuh di Indonesia yang 70% dari 273 juta penduduknya aktif di social media, kamu bisa bayangkan sendiri akan menjadi sebesar apa influencer marketing di tanah air.

Influencer Marketing Terbuka untuk Semua

Kalau kamu sudah browsing sana-sini atau membaca artikel-artikel Knowledge Base BacktoBALI.id sebelumnya dan paham apa itu influencer marketing, mungkin kamu tahu bahwa saat ini fenomena influencer marketing sudah mulai ada di Indonesia.

Hanya saja dari sisi influencer yang terlibat, saat ini masih didominasi influencer yang memiliki jumlah follower, dari selebriti berfollower jutaan sampai sosok cewek-cewek cantik yang difollow puluhan sampai ratusan ribu netizen.

Lalu saat kamu mendengar ide untuk mendapat penghasilan sebagai influencer atau malah menjadikan influencer sebagai profesi mungkin kamu merasa seperti “pungguk merindukan bulan”. Bagaimana mungkin orang biasa bisa memiliki jutaan follower seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina? Bagaimana mungkin cowok berpenampilan pas-pasan bisa diikuti puluhan ribu follower seperti cewek-cewek cantik dan cowok-cowok ganteng?

Nano dan Micro-Influencer

Sebagai pengguna aktif media sosial kamu pasti bisa membedakan, follower artis-artis terkenal, follower cewek bening dan cowok macho, dan follower kita pengguna social media biasa. Apakah Raffi Ahmad kenal satu per satu followernya yang jutaan itu. Apakah cewek cantik dan cowok ganteng yang hanya memfollow beberapa akun tapi followersnya ribuan itu berteman dengan followersnya?

Meskipun follower kamu tidak sebanyak mereka, tapi kebanyakan followermu itu adalah orang-orang yang kamu kenal secara pribadi. Keluarga, kerabat, teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, teman sehobi, teman tapi mesra, pelanggan usaha, relasi bisnis, kamu kenal mereka dan mereka kenal kamu.

Kenal itu menimbulkan kepercayaan. Saran dari orang yang kita kenal lebih kita percayai dari endorse produk yang diposting orang lain meskipun itu artis terkenal. Sementara brand menggunakan influencer karena mereka ingin agar influencer itu dapat mempengaruhi pilihan dan keputusan membeli followernya.

Sebagai manusia kita memang tidak mungkin saling kenal baik dengan jutaan teman kan?

Brand mulai menyadari bahwa dalam proses itu, tingkat kepercayaan follower terhadap influencer sangat penting. Dan kepercayaan itu adanya pada pengguna social media biasa, yang followernya tidak banyak tapi saling mengenal.

Itu bukan hanya asumsi, karena sudah dibuktikan melalui riset. Berikut adalah data yang didapat dari riset yang dilakukan SocialPubli. Kamu bisa lihat bahwa influencer yang paling efektif adalah yang jumlah followernya antara 10.000 sampai 100 ribu saya. Menyusul di tingkat kedua adalah influencer yang jumlah followernya antara 2.000 sampai 10.000.

Bahkan influencer yang jumlah followernya antara 500 sampai 2.000-pun masih dua kali lipat lebih efektif dibandingkan mega-influencer yang jumlah followernya jutaan.

Jadi kalau jumlah followers kamu tidak jutaan, tidak ratusan ribu, tidak puluhan ribu, bahkan tidak ribuan sekalipun, kamu bisa menjadi influencer.

Masalah Nano dan Micro-Influencer

Biasanya masalah yang menjadi penghalang bagi nano dan micro-influencer untuk mengambil peran dan mendapat penghasilan dari influencer marketing adalah kesulitan mereka membuka hubungan kerjasama dengan brand.

Bagaimana kamu yang followernya cuma 1.000 bisa bertemu dengan eksekutif pemasaran brand agar bisa menjalin kerjasama influencer marketing?

Jangankan bekerjasama, langkahmu mungkin terhenti hanya sampai di meja resepsionis.

BacktoBALI.id

Nanti kita bahas bagaimana BacktoBALI.id bisa mengakomodasi agar kamu, nano dan micro-influencer yang jumlah followernya tidak sampai 10.000 bisa mendapatkan penghasilan dari influencer marketing dengan menjadi social seller yang mempromosikan produk-produk brand kepada followersmu.

Kamu tidak perlu berurusan dengan brand. Cukup mendaftar untuk menjadi social seller BacktoBALI.id dan mulai mempromosikan produk-produk yang ada di platform BacktoBALI.id melalui jaringan social media yang kamu miliki, berapapun jumlah followernya.

Kalau terjadi transaksi pembelian melalui link campaign yang kamu share, kamu langsung mendapat komisi. Langsung … gak pake lama.

Jenis-Jenis Influencer

Karena jumlahnya semakin banyak dan fihak-fihak yang berkepentingan untuk memanfaatkan jasanya sering kali memilih untuk membatasi kerjasama dengan influencer yang memiliki spesifikasi tertentu, muncul pengelompokan influencer.

Salah satu parameter pengelompokan influencer yang paling sering digunakan adalah berdasarkan jumlah followernya, berdasarkan jenis konten yang biasa dibagikannya, berdasarkan kemampuannya mempengaruhi followernya, dan berdasarkan niche yang dikuasainya.

Brand biasanya memiliki strategi tersendiri dalam memilih influencer karena sering kali satu influencer memiliki kelebihan dalam satu parameter tetapi kurang pada parameter lainnya.

Misalnya saja influencer yang memiliki jumlah follower jutaan biasanya sosok-sosok selebriti terkenal. Sayangnya meskipun jumlah followernya banyak, kemampuannya mempengaruhi keputusan membeli bisa jadi justru lemah karena mereka tidak memiliki keahlian mumpuni khususnya pada niche-niche yang spesifik.

Di sisi lain influencer yang memiliki jumlah follower sedikit, bisa jadi memiliki tingkat kepakaran yang sangat tinggi sehingga meskipun jumlahnya sedikit, followernya sangat mempercayai saran dan pendapatnya.

By admin

One thought on “Potensi Influencer Marketing”

Comments are closed.