Jual Voucher Hotel di Bali Lewat BacktoBALI.id

Beberapa minggu terakhir ini BacktoBALI.id melakukan safari, menemui sejumlah perusahaan yang kami yakini bisnisnya bisa lebih optimal jika menggunakan metode promosi yang disediakan platform kami. Misi kami bukan marketing tetapi lebih kepada memperkenalkan sekaligus menyerap feedback langsung dari pelaku usaha. Untuk memastikan bahwa solusi yang kami sediakan memang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.

Kami mengawali program ini dari industri yang menjadi tulang punggung perekonomian Bali saat ini, industri pariwisata, khususnya akomodasi.

Mayoritas GM dan DOSM yang kami temui memahami bahkan sepakat bahwa pendekatan yang kami rancang sudah sesuai dengan kebutuhan industri. Meskipun begitu ada beberapa yang mempertanyakan mengapa BacktoBALI.id tidak dihubungkan dengan channel manager seperti halnya OTA. Bahkan ada DOSM hotel yang eksplisit mengatakan “Pendekatannya sih bagus, tapi kalau nggak dihubungkan dengan channel manager kami nggak sanggup, terlalu ribet!”

Jadi mengapa BacktoBALI.id tidak dihubungkan dengan channel manager seperti OTA?

Dasarnya adalah BacktoBALI.id bukan OTA. Perbedaan BacktoBALI.id dengan OTA sangat mendasar dan sangat signifikan. Kalau mau dilihat dari sisi lain, bukan perbedaan tapi persamaan, persamaan diantara keduanya juga bisa dikatakan tidak ada. Baik OTA maupun BacktoBALI.id sama-sama merupakan platform digital yang diakses dengan menggunakan jaringan internet, mungkin itu saja persamaannya.

Karena BactoBALI.id bukan OTA, karena BacktoBALI.id beda dengan OTA, wajar kalau instrumen yang bisa digunakan merchant untuk mengelolanya juga berbeda. Promosi dan penjualan voucher hotel di Bali lewat BacktoBALI.id tidak dihubungkan dengan channel manager.

BacktoBALI.id Tidak Berorientasi Produk

Tidak seperti OTA yang secara spesifik berfokus pada produk tertentu, dalam hal ini akomodasi, BacktoBALI.id tidak berorientasi pada produk. BacktoBALI.id berorientasi pada metode promosi dan penjualan. Mengimplementasikan konsep influencer marketing, BacktoBALI.id memaksimalkan jangkauan promosi melalui viralitas social media sekaligus menghasilkan penjualan dengan memanfaatkan kemampuan nano dan micro-influencer dalam mempengaruhi keputusan pembelian.

Metode promosi dan penjualan yang digunakan BacktoBALI.id bisa digunakan untuk aneka jenis produk. Bahkan hotel bisa menggunakan BacktoBALI.id untuk mempromosikan produk-produk lain selain akomodasi. Misalnya Sunday brunch atau atau all-you-can-eat dinner di restoran.

Produk-produk lain, produk pariwisata lain selain akomodasi, produk hotel lain selain kamar, jelas tidak bisa dihubungkan dengan channel manager.

Pembelian Melalui Social Media Cenderung Impulsif

Social seller BacktoBALI.id mempromosikan produk merchant dengan membagikan link melalui akun-akun social medianya. Bentuknya bisa bervariasi tergantung platform yang mereka gunakan.

Posting yang dibagikan social seller dilihat oleh teman dan followernya dalam rentang waktu yang sangat singkat. Kita semua tahu aktivitas kebanyakan pengguna social media sangat tinggi. Saat membuka aplikasi social media melalui smartphone, jempolnya tidak berhenti scrolling. Post yang mereka lihat pada saat tertentu, dalam waktu singkat, tidak sampai hitungan menit, detik bahkan mungin hanya sepersekian detik akan langsung menghilang, lewat.

Karena itu saat mereka tertarik dengan produk yang dibagikan melalui post temannya, ketertarikan mereka itu juga terbentuk sangat cepat. Sepersekian detik saat jempolnya scrolling mereka memutuskan untuk berhenti, melihat content, membaca caption, click link yang dibagikan, melihat produknya, tertarik untuk membeli, dan menyelesaikan transaksi, saat itu juga.

Karena itu pembayaran online menjadi sangat esensial.

Saat produk yang dilihatnya itu hotel, kebanyakan mereka mengambil keputusan membeli juga keputusan sesaat yang terjadi saat itu juga. Mereka tidak kemudian memeriksa agendanya, mengajukan cuti, menunggu cutinya disetujui, baru muter-muter lagi mencari link yang dibagikan temannya entah berapa hari bahkan minggu sebelumnya untuk membeli.

Proses pengambilan keputusannya tidak panjang dan lama. “Beli aja dulu, kapan perginya urusan nanti lah, entah minggu depan, bulan depan, atau beberapa bulan lagi toh pasti juga liburan …” Karena itu kalau BacktoBALI.id dihubungkan dengan channel manager, saat membeli mereka harus langsung menentukan tanggal kedatangannya, moment “impulsive purchase”-nya sudah hilang.

Lagian kalau mereka sudah tahu persis kapan mereka akan pergi, tanggal berapa menginap, bahkan mungkin jam kedatangannyapun sudah tahu karena tiket pesawat sudah di tangan, mereka juga tidak lagi perlu membeli voucher, langsung saja booking.

Promo … Harga Spesial untuk Penjualan Cepat

Model penjualan ideal BacktoBALI.id itu “Beli aja sekarang mumpung ada promo. Toh ‘validity period’ vouchernya panjang. Memutuskan kapan digunakannya nanti saja.”

BacktoBALI.id

Penjualannya lho yang cepat ya.

Penggunaanya bisa saja masih lama, karena ‘validity period’ vouchernya kan bisa diset panjang. Bisa sampai 12 bulan sejak voucher dibeli.

Salah satu skenario ideal penggunaan BacktoBALI.id untuk hotel dan produk akomodasi lainnya misalnya seperti ini. Sekarang sedang di luar sana sedang summer holiday sehingga di Bali sedang high season sehingga, hotel hampir penuh dengan tamu asing. Occupancy tinggi, semua membayar full rate. Tapi kita tahu bahwa dua bulan ke depan akan berhadapan dengan low season dimana hanya sedikit sekali wisatawan asing datang.

Jadi sekarang kita menggunakan BacktoBALI.id untuk membuat promo, menyasar pasar domestik yang tidak terpengaruh summer holiday, dengan menawarkan harga khusus supaya nanti pada saat low season, hotel bisa terisi tamu domestik. Meskipun harganya lebih murah, masih jauh lebih baik daripada kosong. Pada campaign promo itu “syarat dan ketentuan”-nya spesifik menyebutkan bahwa voucher promo itu hanya berlaku untuk low season yang periodenya antara tanggal sekian sampai tanggal sekian.

Copywriting pada promo itu ditulis sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan langka, kalau tidak membelinya langsung saat itu juga, akan kehabisan. Istilah pemasarannya FOMO, fear of missing out.

Saat calon konsumen melihat promo itu pada post temannya di social media, mereka langsung membeli saat itu juga. Baru setelah itu memikirkan kapan-nya. Baru mereka memeriksa jadwal kerjanya. Baru mereka mengajukan cuti. Baru mereka mencari tiket pesawat.

Sekali lagi … kalau mereka “dipaksa” untuk memutuskan tanggal kedatangannya karena campaign-nya dihubungkan dengan channel manager, meskipun tertarik mereka terpaksa melewatkan penawaran itu.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.