Copywriting for Social Seller

Meskipun sama-sama mempromosikan brand melalui jaringan social media kepada audience-nya, social seller berbeda dengan influencer.

Influencer biasanya dibayar untuk memperkenalkan produk agar audiencenya aware akan keberadaan produk tersebut dan tahu bagaimana produk itu dapat memenuhi kebutuhannya atau menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tentu harapannya setelah tahu mereka akan membeli. Tapi kalaupun tidak ada yang membeli, influencer tetap dibayar.

Sementara social seller tidak hanya membangun brand awareness tetapi juga harus menciptakan konversi. Bentuk paling umum dari konversi ini adalah penjualan. Karena itu social seller biasanya dibayar dalam bentuk komisi dari penjualan yang dihasilkan.

Karena itu jumlah follower yang dimiliki dan kecocokan profilnya dengan produk brand bukanlah hal yang utama bagi social seller. Social seller harus memiliki kemampuan untuk membuat konten yang tidak hanya memberi informasi tetapi juga mempengaruhi audience untuk mengambil keputusan untuk membeli produk yang dipromosikannya saat itu juga.

Kalaupun jumlah followernya sedikit, kalau setiap dia posting sebagian followernya membeli, penghasilan social seller bisa jadi lebih besar dari influencer yang memiliki banyak follower.

Karena itu kalau kamu mau sukses menjadi seorang social seller, menghasilkan uang dalam bentuk komisi dari penjualan yang kamu hasilkan, kamu harus mengasah skill copywriting yang menghasilkan transaksi penjualan.

Pakar dan praktisi marketing biasa menyebutnya copywriting that sells.

Tips Copywriting untuk Social Seller

Seperti sudah dibahas sebelumnya, copywriting yang digunakan oleh social seller harus mampu membuat audience mengambil keputusan untuk mengambil keputusan, melakukan pembelian segera, saat itu juga. Karena kalau tidak terjadi transaksi, social seller tidak mendapatkan penghasilan dari aktivitasnya itu.

Berikut adalah beberapa hal yang harus kamu perhatikan saat membuat content dan menulis caption sebagai social seller:

1. Judul Harus Membuat Orang Langsung Bertindak

Sebagai pengguna social media, kamu pasti hafal kalau bagian besar pengguna social media mengambil tindakan hanya berdasarkan judul tanpa membaca isinya. Kenyataanya ketika mereka membaca isi pun itu dilakukannya karena judul yang menarik perhatiannya begitu kuat sehingga mengendalikan tindakannya. Sayangnya judul justru sering terlewatkan.

Judul yang baik setidaknya harus bisa membuat audience berhenti dan membaca isinya. Akan lebih baik lagi kalau bisa melewati isinya dan langsung mengambil tindakan sesuai dengan yang kamu inginkan, membeli.

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan supaya judul content kamu membuat orang langsung mengambil tindakan. Misalnya membuat judul berbentuk pertanyaan sehingga mereka secara refleks berhenti karena merasa “terpanggil” untuk menjawab.

Kamu juga bisa mencoba menggunakan kata-kata tertentu yang memiliki kemampuan membuat orang segera mengambil tindakan tanpa berpikir panjang.

Kamu juga bisa mencoba menggunakan kalimat yang alih-alih memberi tahu sesuatu justru memancing rasa ingin tahu, membuat penasaran. Misalnya daripada mengatakan “Produk ABC dapat membuat kulitmu lebih cerah.” kamu dapat memilih menggunakan kalimat “Cara membuat kulitmu lebih cerah dalam 7 hari.”

Atau kemukakan hal-hal negatif yang justru berlawanan dengan manfaat produk yang kamu promosikan. Misalnya “Wajar aja jomblo terus, lha kulit kamu kusam begitu!”

2. Jangan Panjang-Panjang

Orang cenderung menghindari kalimat panjang karena itu memberi pesan pada otaknya bahwa dia harus berpikir untuk memahaminya. Tanpa kita sadari kita memang cenderung menghindari sesuatu yang membuat kita harus berfikir.

Karena itu buatlah kalimat pendek yang “to the point”.

Kalau memang kamu merasa perlu untuk menyampaikan pesan yang cukup panjang, setidaknya pecahlah menjadi kalimat-kalimat pendek sehingga lebih mudah dicerna tanpa harus berfikir terlalu keras.

Ada tiga hal penting yang kamu dapatkan dengan memecah menjadi kalimat-kalimat pendek. Pertama audience tidak melewati karena malas ribet. Kedua audience lebih mudah memahami pesan yang ingin kamu sampaikan. Ketiga hal yang paling penting terpisah dari langsung dapat ditangkap karena tidak tersembunyi dalam balutan kalimat panjang dan rumit.

3. Tunjukkan Kredibilitas

Kalau Presiden Jokowi mengatakan sesuatu orang langsung tertarik. Kalau seorang yang dikenal sebagai ahli kecantikan memberi saran soal perawatan kulit orang langsung percaya. Tapi kalau kamu mengatakan sesuatu audience bisa saja justru berpikir “Emang kamu siapa?”

Karena itu tunjukan kredibikitas dengan mengemukakan fakta dan data. Bisa dalam bentuk angka atau mungkin pernyataan atau tindakan dari orang yang secara umum diketahui memiliki kredibilitas yang tinggi.

Misalnya daripada mengatakan “Karena hampir semua marketer menggunakan influencer marketing, sebaiknya kamu juga menggunakannya.” akan lebih meyakinkan kalau kamu mengatakan “93% marketer menggunakan influencer marketing. Kamu masih berada di kelompok yang 7%?” Kenapa? (1) Memotong menjadi dua kalimat yang lebih pendek. (2) Menggunakan bentuk kalimat bertanya. (3) Didukung dengan data sehingga lebih credible.

4. Fokus Pada Manfaat, Bukan Fitur

Sering kali orang terjebak dengan memamerkan deretan fitur dari produk yang dipromosikannya. Padahal audience tidak membeli produk karena fiturnya. Mereka membeli produk karena memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi atau menghadapi masalah yang harus diselesaikan.

Ketika kamu memamerkan fitur, ada “gap” yang harus diisi dengan berfikir. Mereka harus mencerna informasi yang mereka dapat untuk memastikan kalau fitur-fitur yang kamu sebutkan itu memang akan memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Jadi kalau kamu mempromosikan hotel. Daripada mengatakan “Hotel ABC memiliki 5 restoran yang menawarkan jenis masakan yang berbeda, tradisional Bali, Indonesia, Jepang, Italia, dan India”. akan lebih menarik kalau kamu mengatakan “Sudah masuk hotel biasanya malas keluar lagi. Di hotel ini, kalau kamu lapar, kamu nggak usah keluar lagi. Bisa makan di restoran hotel atau pesan di kamar. Mau masakan apapun ada.”

5. Sisipkan Cerita yang Melibatkan Emosi

Kalau kamu membuat konten yang cukup panjang, misalnya dalam bentuk video atau posting blog, coba sisipkan cerita yang melibatkan emosi audience.

Kamu pasti pernah mendengar mengenai storytelling dalam marketing kan?

Iklan rokok merupakan contoh storytelling yang luar biasa. Iklan rokok tidak boleh memperlihatkan rokoknya, tidak boleh memperlihatkan orang sedang merokok. Tapi iklan rokok tetap mampu menarik audience untuk memilih dan membeli produknya.

By admin