Kalian pasti sudah sering mendengar bagaimana influencer berstatus selebriti yang memiliki follower jutaan bisa mendapatkan penghasilan besar hanya dari posting melalui akun social medianya. Untuk satu posting di akun social media milik megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo yang punya lebih dari 400 juta follower konon brand harus membayar sekitar 1,7 juta dolar. Sementara di tanah air untuk satu posting di akun Instagram milik pasangan Sultan Andara, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yang punya follower lebih dari 60 juta, tarifnya konon berada di kisaran 9 digit.

Dalam dunia influencer marketing, influencer yang memiliki follower berjuta-juta seperti mereka dikenal sebagai “mega-influencer”. Brand biasanya menggunakan menggunakan untuk menjangkau audience yang luas dengan target brand awareness.

Praktis, hanya dengan berurusan dengan satu influencer saja, Raffi Ahmad misalnya, lebih dari 60 juta netizen yang menjadi followernya bisa terjangkau pesan pemasaran yang dikampanyekan brand.

Kamu mau mendapatkan penghasilan besar seperti mereka dengan cara yang sama?

Jangan mimpi!

Coba deh amati dulu. Hampir semua mega-influencer papan atas itu memang merupakan sosok-sosok yang beken di dunia nyata. Artis, atlet, pengusaha sukses, motivator berskala internasional, pejabat tinggi, dan sejenisnya. Ada terminologi khusus untuk mereka, celebrity-influencer. Rata-rata semua public figure. Mereka membawa fan base-nya, penggemarnya, pengagumnya, dari dunia nyata ke dunia maya. Yang menghubungkan follower dengan celebrity-influencer biasanya karena kekaguman akan sosoknya.

Tapi tidak berarti yang bukan seleb tidak bisa menjadi mega-innfluencer. Sekarang ada banyak orang yang tumbuh terbalik, karena mereka sukses membangun popularitas di dunia maya, dia kemudian bisa masuk ke dunia nyata seperti masuk ke acara televisi dan sebagainya. Karena mereka ini kebanyakan membangun popularitasnya melalui Instagram, maka kemudian kita mengenal istilah selebgram. Mereka ini jumlah followernya ada yang membuatnya masuk kategori mega-influencer juga lho.

Yang bukan seleb dan bukan sosok populer di social media biasanya membangun follower-base di social media dengan menjadikan dirinya orang yang dianggap punya pengetahuan atau pengalaman lebih dalam bidang tertentu. Misalnya banyak netizen wanita yang memiliki banyak follower karena sering memposting bagaimana cara merawat tubuh dan wajah. Seriring popularitasnya meningkat, brand menjadikannya beauty influencer. Atau mungkin netizen pria yang rajin mereview gadget-gadget terbaru juga banyak yang kemudian bekerja sama dengan brand untuk membuat review produk-produk mereka.

Mereka biasanya memiliki jumlah follower di rentang mid-tier influencer alias influencer kelas menengah. Pengetahuannya yang cukup mendalam pada niche tertentu yang secara konsisten ditunjukkan melalui social media membuat mereka dikenal sebagai KOL. Bukan sayuran ya, KOL itu singkatan dari Key Opinion Leader.

Kalau sampai situ juga kamu belum masuk, jangan berkecil hati. Sekarang brand banyak yang mulai melirik nano dan micro-influencer. Pengguna social media yang jumlah followernya berada di rentang 1000 sampai 10.000, bahkan kurang dari itu.

Tapi dengan jumlah follower yang demikian minim, jangan harap bisa mendapat penghasilan besar dari setiap kali posting seperti mereka yang jumlah followernya puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan.

Kelebihan Nano dan Micro-Influencer

Sebetulnya nano dan micro-influencer itu punya kelebihan yang sangat strategis. Karena itu sekarang banyak brand mulai mengarahkan pilihannya pada nano dan micro-influencer. Tentu saja selewat menggunakan nano dan micro-influencer terlihat murah. Satu kali post oleh celebrity influencer biayanya bisa ratusan juta. Sementara nano dan micro-influencer bisa jadi ditawari pulsa gratis saja sudah banyak yang mau.

Brand Lebih Memilih Nano dan Micro-Influencer
Daripada Mega-Influencer

Tapi sebetulnya bukan itu yang membuat brand banyak melirik nano dan micro-influencer.

Karena kalau hitung-hitungan biaya, dengan celebrity influecer, cukup berurusan dengan satu orang dan membayar sekian ratus juta brand sudah bisa menjangkau sekian juta audience. Sementara untuk menjangkau audience dalam jumlah yang sama melalui nano dan micro-influencer mereka harus berurusan dengan ribuan orang.

Mungkin bayaran masing-masing memang sedikit. Tapi dijumlahkan ya tetap banyak. Belum terhitung keribetannya. Berurusan dengan satu orang celebrity influencer tentu lebih cepat dan mudah daripada berurusan dengan sekian ribu nano dan micro-influencer.

Nano dan micro-influencer biasanya orang-orang biasa yang menggunakan social media benar-benar sesuai peruntukkan awalnya, bersosialisasi. Kebanyakan follower mereka adalah orang-orang yang mereka kenal secara pribadi. Keluarga, kerabat, teman kerja, teman kuliah, teman sekolah, dan sejenisnya. Orang-orang yang hanya dikenal di dunia maya pun biasanya mereka kenal karena memiliki kesamaan, misalnya punya hobi yang sama, punya profesi yang sama, dan sebagainya.

Hubungan seperti ini membuat suara nano dan micro-influencer lebih didengar dan dipercaya followernya. Wajar dong. Kita memang cenderung lebih percaya pada orang yang kita kenal.

Kalau Syahrini yang dari dulu kita tahu kinclong banget itu bicara tentang produk perawatan wajah tertentu, banyak orang mungkin akan bilang “Halah, iklan!” Tapi kalau orang yang kita kenal bulek koq lama-lama makin kinclong dan dia bilang dia memakai produk tertentu, teman-temannya akan cenderung lebih percaya kan?

Jadi itu yang dicari brand dari nano dan micro-influencer. Kemampuannya untuk mempengaruhi keputusan pembelian followernya jauh lebih tinggi dibandingkan macro-influencer.

Sayangnya, tetap saja, karena jumlah follower sedikit, bayaran per post-nya tetap saja murah.

Kekurangan Nano dan Micro-Influencer

Kelemahan utama nano dan micro-influencer adalah kesulitan untuk berhubungan dengan brand yang mau membayar jasanya. Berharap dihubungi brand mungkin akan menjadi harapan kosong selamanya. Sementara mega-influencer berfollower jutaan didatangi brand untuk diajak bekerjasama, begitu juga mid-tier influencer yang meskipun jumlah followernya lebih sedikit tetapi berstatus KOL pada niche tertentu, brand mana yang mau datang menghubungi seorang nano atau micro-influencer?

Kalau dibalik situasinya juga sama. Kalau kamu datangi satu per satu brand menawarkan diri bekerjasama sebagai influencer, emang ada yang bakal nanggepin?

Bukan hal yang mengherankan sih. Sebagai pengguna social media biasa, hampir semua nano dan micro-influencer tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman untuk hal-hal seperti ini.

Sisi lain yang juga menjadi kelemahan banyak nano dan micro-influencer adalah kemampuannya membuat konten yang menarik followernya untuk memperhatikan, kemudian setelah perhatiannya tertarik, mengarahkannya untuk membeli produk yang dipromosikan.

Kadang kita lupa, teman mungkin memang punya tingkat kepercayaan yang cukup tinggi. Tapi teman biasanya juga anti “dijualin”. Promosi ke teman harus tidak terasa sebagai promosi, tapi lebih sebagai pendapat atau saran. Kadang kita lupa dan terlalu bersemangat menutup penjualan sehingga kesan “jualan”-nya terlalu kentara. Kalau sudah begini, alih-alih membeli, justru tingkat kepercayaan mereka malah jadi berkurang, dan next time kita berpromosi mereka sudah pasang pagar duluan.

Jangan Mau Dimanfaatkan!

Nano dan Micro-Influencer Harus Memanfaatkan Kelebihannya untuk Kepentingannya Sendiri.

Dengan bayaran yang kecil padahal memiliki kelebihan yang sangat strategis, nano dan micro-influencer harus mencoba pendekatan lain. Daripada kelebihannya dimanfaatkan brand, lebih efektif mempengaruhi audience dengan biaya yang lebih murah, nano dan micro-influencer seharusnya menggunakan kelebihannya itu untuk mendapat penghasilan yang lebih besar dari sekedar bayaran per post yang tidak seberapa itu saja.

BacktoBALI.id memungkinkan nano dan micro-influencer, dengan jumlah follower terbatas, tetap bisa mendapat penghasilan yang jauh lebih besar dari penghasilan yang mungkin di dapat dari bayaran per post dengan menjadi social seller.

Social seller tidak hanya menyebarkan pesan pemasaran brand. Fokus social seller adalah menghasilkan penjualan. Penghasilan yang didapat social seller bukan per post tapi komisi dari penjualan yang dihasilkan. Karena itu meskipun followermu sedikit, kalau kamu punya kemampuan untuk meyakinkan follower membeli produk yang kamu promosikan, kamu bisa mendapatkan penghasilan yang bisa dikatakan tidak terbatas.

Kalau kamu netizen dengan jumlah follower di kisaran 1000 sampai 10.000 bahkan kurang, ingin mendapat penghasilan lebih besar dari sekedar bayaran per post sebagai influencer, jadilah social seller BacktoBALI.id. Selain potensi penghasilan yang tidak terbatas tanpa kamu harus repot-repot berurusan dengan brand, BacktoBALI.id juga menyediakan sarana belajar agar kamu bisa membuat konten menarik dan menulis copywriting yang mampu menghasilkan penjualan.

Kita bahas mengenai social seller dan BacktoBALI.id lebih jauh pada postingan berikutnya ya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.