Beda Influencer dan Social Seller

Saat kita membahas apa itu influencer pada postingan terdahulu, kita melihat definisi influencer dari sisi bahasa menurut sejumlah kamus Bahasa Inggris terkemuka. Kalau belum, bisa membacanya disini ya. Pada dasarnya, sesuai dengan kata dasarnya “to influence” yang kurang lebih artinya “mempengaruhi”, influencer adalah mereka yang mempengaruhi orang lain.

Dikaitkan dengan pemasaran masa kini yang sebagian besarnya terjadi di dunia digital, baik yang mempengaruhi maupun yang dipengaruhi sama-sama berada di platform media social. Influencer mempengaruhi persepsi followernya tentang merk atau produk tertentu.

Tentu persepsi yang terbangun adalah persepsi positif sesuai dengan keinginan brand yang membayarnya. Bisa memperluas brand awareness, memperkenalkan sebuah brand atau suatu produk yang belum cukup dikenal audience. Bisa juga membangun brand image, menimbulkan keyakinan akan kualitas brand atau produk dan kemampuannya menyelesaikan masalah yang dihadapi audience.

Ujung-ujungnya yang diharapkan brand pastinya penjualan. Semakin luas brand dan produk dikenal, semakin besar kemungkinan orang membeli. Semakin tinggi tingkat kepercayaan akan brand dan produk, semakin besar kemungkinan orang membeli. Hanya saja dalam konsep influencer marketing, urusan terjadinya penjualan ini bukan urusan influencer. Tanggung jawab influencer hanya sebatas pada mempengaruhi persepsi sesuai keinginan brand itu tadi saja.

Karena itu hanya dengan posting content mengenai brand atau produk melalui akun social medianya saja influencer langsung mendapatkan bayaran.

Social seller sejatinya merupakan influencer juga. Aktivitas yang dijalankan oleh social seller itu termasuk influencer marketing juga. Social seller juga menggunakan jaringan social media untuk mempengaruhi persepsi followernya terhadap brand dan produk. Untuk kebutuhan itu social seller juga membuat content dan menulis copywriting sendiri yang kemudian diposting melalui akun social media untuk menjangkau followernya.

Apa yang Membedakan Social Seller dengan Influencer?

Mungkin setelah melihat begitu banyak kesamaan antara influencer dan social seller kamu jadi bertanya-tanya, kalau begitu apa bedanya?

Social seller itu influencer, tapi influencer belum tentu social seller, karena social seller merupakan bagian dari influencer. Sebutannya saja beda, pasti ada perbedaannya, dan perbedaanya itu tidak kalah signifikan dengan persamaannya. Jadi kita teruskan bahasannya ya.

Kita tadi sempat membahas kalau influencer dan social seller sama-sama menggunakan pengaruhnya untuk membentuk atau membangun persepsi audience terhadap brand atau produk. Influencer berhenti sampai disitu. Sementara social seller ada lanjutannya. Selain membentuk atau mempengaruhi persepsi, social seller juga secara langsung mempengaruhi keputusan pembelian audience yang menjadi followernya.

Itu titik perbedaan utama antara influencer dan social seller. Influencer membentuk atau membangun persepsi sementara social seller juga mempengaruhi keputusan pembelian.

Selain membangun persepsi, social seller juga menciptakan konversi.

Perbedaan yang cukup mendasar antara social seller dan influencer itu kemudian membawa implikasi pada sejumlah perbedaan-perbedaan lainnya. Misalnya target dari influencer adalah menciptakan brand awareness dan membangun brand image. Sementara target social seller adalah konversi, penjualan. Dalam aplikasi influencer marketing oleh social seller, brand awareness dan brand image itu bonus, efek samping yang diharapkan.

Perbedaan target otomatis membuat model pembayaran juga berbeda. Kalau influencer dibayar pada saat dia memposting content yang mempromosikan brand, social seller dibayar pada saat terjadi penjualan. Kenyataannya influencer bahkan dibayar pada saat kontrak disepakati, sebelum mereka posting. Sementara social seller dibayar setelah transaksi terjadi dan pembayaran diterima penjual.

Juga soal pembayaran, jika influencer dibayar per post, social seller dibayar per penjualan, biasanya dalam bentuk komisi berupa prosentase dari penjualan yang dihasilkan. Konsekuensi logisnya influencer kalau dia posting sudah pasti dibayar, sementara social seller tidak begitu. Social seller hanya dibayar kalau postingannya itu menghasilkan penjualan.

Tentu ada konsekuensi dari kepastian v.s. ketidakpastian pembayaran itu. Dengan asumsi semua parameter lain sama, bayaran per post yang diterima influencer jauh lebih kecil dari potensi pendapatan komisi yang mungkin dihasilkan social seller.

Perbedaan lain adalah dari content yang mereka buat untuk mempengaruhi followernya. Content untuk mempengaruhi persepsi pasti beda dengan content untuk menghasilkan konversi.

Mau tau bedanya?

Nanti kita bahas di posting selanjutnya ya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.