Apa Itu Social Seller BacktoBALI.id

Sebagai pengguna aktif social media, kamu pastinya pernah atau bahkan sering dong mendengar istilah influencer? Atau malah mungkin kamu salah satu “pelaku”-nya? Kalaupun belum pernah mendengar apalagi menjadi influencer, pasti kamu sudah sangat sering melihat aktivitas mereka di platform social media yang kamu gunakan. Influencer adalah mereka yang mempromosikan pesan-pesan pemasaran dari brand atau produk-produk tertentu kepada followernya di social media.

Hanya sekedar mengingatkan saja sih. Kita sudah pernah membahas apa itu influencer pada postingan sebelumnya. Kalau kamu kebetulan belum membacanya, baca disini ya.

Kenapa brand nggak menyampaikan pesan-pesan pemasarannya sendiri, malah “titip pesan” sama influencer? Banyak studi membuktikan bahwa masyarakat, khususnya di era social media ini, lebih mempercayai informasi, saran dan masukan yang diterimanya lewat jaringan social media daripada iklan yang disajikan langsung oleh brand.

Karena itu daripada beriklan brand lebih memilih menitipkan pesan-pesan pemasarannya kepada netizen yang memiliki banyak follower di social media. Brand memilih netizen yang memiliki banyak follower dengan alasan praktis, supaya bisa menjangkau audience dalam jumlah besar sekaligus.

Maka lahirlah fenomena influencer marketing dimana brand menyampaikan pesan-pesan pemasaran melalui netizen yang kemudian disebut influencer. Pesan pemasaran brand cenderung menjual, sementara masyarakat sekarang nggak suka “dijualin”. Semetara influencer menyampaikan pesan-pesan pemasaran dengan cara mempengaruhi pikiran followernya. Makanya istilahnya “influencer” yang kurang lebih artinya “orang yang mempengaruhi”.

Beberapa tahun terakhir, influencer marketing menjadi sumber penghasilan banyak sosok yang memiliki follower dalam jumlah besar di social media. Di tingkat internasional, brand konon harus membayar sekitar 1,7 juta dolar untuk satu kali posting oleh megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo yang memiliki lebih dari 450 juta follower. Sementara untuk sekali posting oleh selebriti papan atas Kylie Jenner yang memiliki lebih dari 350 juta follower brand harus membayar 1,2 juta dolar.

Di tanah air sosok-sosok yang diketahui memiliki banyak follower social media mematok harga cukup fantastis. Sebut saja pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang memiliki follower lebih dari 60 juta atau Gisel yang memiliki follower lebih dari 35 juta yang konon tarif per postingnya berada di angka ratusan juta rupiah.

Sudah sampai disitu saja refresh-nya ya.
Refresh terus kapan lanjutnya?

Siraman rejeki influencer marketing pada sosok-sosok yang memiliki jumlah follower jutaan juga bisa nyipratin pengguna social media lain yang memiliki jumlah follower sedikit. Kamu, saya, kita yang menggunakan social media benar-benar hanya untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang kita kenal, bisa mendapat bagian juga. Karena banyak brand mulai menyadari, pengguna social media berfollower sedikit seperti kita ini, yang disebut micro bahkan nano-influencer, memiliki kelebihan yang sangat penting bagi brand.

Kebanyakan kita dan follower kita saling mengenal secara pribadi, tingkat kepercayaan follower terhadap kita jauh lebih tinggi. Alhasil informasi, pendapat, saran yang kita sampaikan melalui social media, lebih dipercayai follower ketimbang postingan macro-influencer atau bahkan mega-influencer yang memiliki follower jutaan itu.

Tapi ya itu tadi. Meskipun punya kemampuan lebih yang tidak dimiliki macro atau mega-influencer, karena brand umumnya masih menggunakan jumlah follower sebagai salah satu parameter utama, kita nano dan micro-influencer ini kebagiannya cuma “cipratan”, nggak kebagian “siraman”.

BacktoBALI.id

Lalu apakah artinya nano dan micro-influencer tidak bisa mendapatkan penghasilan besar dari aktivitas mempromosikan produk melalui jaringan social medianya?

Bisa dong!

Gabung saja dengan BacktoBALI.id yang memungkinkan nano dan macro-influencer menutup kekurangannya dalam hitungan jumlah follower dengan mengedepankan kelebihannya memiliki tingkat kepercayaan tinggi dari follower untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas dengan menjadi social seller.

Jadi Apa Itu Social Seller?

Social seller adalah influencer yang aktivitasnya di social media tidak berhenti pada penyebaran pesan-pesan pemasaran tetapi pada penjualan.

Kalau influencer setelah memposting content mengenai brand atau produk yang bekerjasama dengannya urusannya selesai, kalau social seller prosesnya berlanjut sampai follower yang melihat konten yang dipostingnya itu mengikuti apa yang menjadi target dari penyebaran pesan pemasaran itu. Pastinya kasus yang paling umum adalah membeli.

Memang mungkinlebih rumit dan prosesnya lebih panjang. Tetapi hasilnya sepadan dengan usahanya. Karena social seller alih-alih dibayar per-post yang jumlahnya tidak seberapa karena jumlah followernya sedikit, justru mendapatkan penghasilan dalam bentuk komisi, sekian persen dari penjualan yang dihasilkannya.

Jadi kalaupun jumlah followenya hanya 1.000 orang misalnya, lalu dari 1.000 follower itu yang melihat postingannya 10% alias 100 orang, kalau 10% follower yang melihat postingannya membeli, artinya dia bisa mendapatkan 10 penjualan dengan satu kali posting.

Nah sekarang tinggal memperhitungkan beberapa parameter ini lagi.

  1. Berapa sering dia membuat dan memposting content social selling?
  2. Berapa banyak rata-rata produk yang dibeli follower yang membeli, misalnya kalau yang dijual voucher hotel, rata-rata pembeli membeli voucher untuk berapa malam?
  3. Berapa harga dari produk yang dipromosikan itu? Jelas makin mahal harga produknya, dengan prosentase komisi yang sama uang yang dihasilkan lebih besar.
  4. Dan pastinya berapa persen komisi dari masing-masing produk yang dijual?

Tergantung kemampuan kamu membuat content yang menarik perhatian follower dan kemampuan kamu menulis copywriting yang bisa membuat follower yang tertarik memutuskan untuk membeli, kamu bisa memperoleh penghasilan yang tidak terbatas meskipun jumlah followermu tidak banyak.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.