Apa Itu Influencer BacktoBALI.id

Pengertian influencer menurut beberapa kamus Bahasa Inggris terkemuka:

An influencer is someone who is able to persuade a lot of other people, for example their followers on social media, to do, buy, or use the same things that they do. They are often paid or given free products in exchange for doing this. Collins Dictionary

(1) Someone who affects or changes the way that other people behave. (2) A person who is paid by a company to show and describe its products and services on social media, encouraging other people to buy them. Cambridge Dictionary

(1) One who exerts influence. (2) A person who inspires or guides the actions of others. (3) A person who is able to generate interest in something (such as a consumer product) by posting about it on social media. Merriam-Webster

A person or thing that influences somebody/something, especially a person with the ability to influence potential buyers of a product or service by recommending it on social media. Oxford Learner’s Dictionaries

Ternyata keempat kamus Bahasa Inggris paling terkemuka di dunia itu semuanya sudah mengaitkan langsung kata “influencer” dengan aktivitas digital melalui social media. Sementara situs terkemuka digital marketing yang fokus berbicara mengenai influencer marketing membuat definisi influencer sebagai berikut:

Influencer is someone who has (1) the power to affect the purchasing decisions of others because of his or her authority, knowledge, position, or relationship with his or her audience, (2) a following in distinct niche with whom he or she actively engages. Influencer Marketing Hub

Jadi dalam bahasa sehari-hari bisa kita simpulkan bahwa influencer adalah orang yang entah karena otoritasnya, pengetahuannya, kedudukannya, atau hubungannya dapat mempengaruhi keputusan orang lain yang terhubung dengannya melalui social media. Secara khusus keputusan ini dikaitkan dengan memilih atau membeli produk dan jasa yang akan digunakannya.

Influencer Social Media

Sebetulnya sejak dahulu pengaruh seseorang terhadap keputusan pembelian orang lain sudah merupakan suatu hal yang lumrah. Word of mouth alias saran dari mulut ke mulut dipercaya sebagai instrumen pemasaran yang sangat efektif sejak puluhan tahun yang lalu. Di era digital dimana manusia bersosialisasi melalui platform digital yang kita kenal dengan media social, fenomena ini berjalan dengan jauh lebih efektif. Salah satunya karena jumlah pengguna social media yang sangat masif.

Bayangkan saja, 4,62 milyar penduduk bumi merupakan pengguna aktif social media yang rata-rata per hari menghabiskan hampir 2,5 jam waktunya di portal-portal tersebut.

Influencer social media biasaya adalah orang-orang yang memiliki reputasi tinggi karena pengetahuan dan kepakarannya pada bidang tertentu, sehingga para pengguna social media lain mempercayai saran dan pendapatnya pada bidang tersebut. Bidang kepakaran ini dalam terminologi social media marketing dikenal dengan istilah “niche”.

Biasanya reputasinya itu terbangun dengan seringnya dia membagikan konten berupa informasi yang bermanfaat sehingga secara perlahan kepercayaan akan pengetahuan dan keahliannya terus berkembang. Banyak pengguna social yang tertarik dengan topik yang sesuai dengan niche tersebut kemudian mem-follow supaya bisa terhubung dengannya agar tidak ketinggalan update terbaru darinya.

Brand, perusahaan pemilik merk dan produsen produk tertentu, seringkali membangun kerjasama dengan influencer, terutama yang niche-nya relevan dengan produk yang ditawarkannya, agar si influencer bisa mempengaruhi followernya untuk membeli produk itu alih-alih produk yang sama dari kompetitor.

Jenis-Jenis Influencer

Karena jumlahnya semakin banyak dan fihak-fihak yang berkepentingan untuk memanfaatkan jasanya sering kali memilih untuk membatasi kerjasama dengan influencer yang memiliki spesifikasi tertentu, muncul pengelompokan influencer.

Salah satu parameter pengelompokan influencer yang paling sering digunakan adalah berdasarkan jumlah followernya, berdasarkan jenis konten yang biasa dibagikannya, berdasarkan kemampuannya mempengaruhi followernya, dan berdasarkan niche yang dikuasainya.

Brand biasanya memiliki strategi tersendiri dalam memilih influencer karena sering kali satu influencer memiliki kelebihan dalam satu parameter tetapi kurang pada parameter lainnya.

Misalnya saja influencer yang memiliki jumlah follower jutaan biasanya sosok-sosok selebriti terkenal. Sayangnya meskipun jumlah followernya banyak, kemampuannya mempengaruhi keputusan membeli bisa jadi justru lemah karena mereka tidak memiliki keahlian mumpuni khususnya pada niche-niche yang spesifik.

Di sisi lain influencer yang memiliki jumlah follower sedikit, bisa jadi memiliki tingkat kepakaran yang sangat tinggi sehingga meskipun jumlahnya sedikit, followernya sangat mempercayai saran dan pendapatnya.

Berdasarkan Jumlah Follower

Mega-Influencer

Mereka ini merupakan sosok-sosok yang memiliki follower paling banyak melalui jaringan social media yang digunakannya. Meskipun tidak ada standar baku, secara umum mereka yang masuk ke dalam kelompok ini setidaknya memiliki satu juta follower.

Kebanyakan mega-influencer adalah orang-orang terkenal, tidak hanya di social media tetapi di dunia nyata. Selebriti, bintang film, penyanyi, bintang olah raga, dan sebagainya. Biasanya followernya di social media adalah penggemarnya di dunia nyata.

Jumlah followernya yang sangat banyak menjamin pesan yang dititipkan brand kepadanya akan menjangkau banyak orang. Tetapi tidak semua perusahaan dan brand dapat menggunakan mega-influencer. Sesuai dengan jumlah followernya, harga mereka juga biasanya sangat tinggi.

Untuk satu posting melalui akun Instagram milik mega-bintang sepak bola Cristiano Ronaldo, manusia pertama di muka bumi dan di jagat maya yang memiliki lebih dari 400 juta follower, brand harus merogoh kocek sekitar 1,7 juta dolar yang kalau dirupiahkan menjadi lebih dari 25 milyar.

Macro-Influencer

Golongan influencer ini dalam hal jumlah follower berada setingkat di bawah mega-influencer. Jumlah followernya berada di kisaran antara 40.000 sampai 1 juta. Biasanya yang berada di kelompok ini adalah selebriti yang tidak cukup terkenal atau mereka yang dikenal sangat luas karena tingkat kepakarannya dalam niche tertentu.

Misalnya saja di tanah air ada sosok Ellen May @ellenmay_official yang bukan selebriti tetapi sosok yang keahliannya dalam hal trading dan investasi menjadi referensi banyak trader saham tanah air. Ellen May memiliki lebih dari 300 ribu follower dan masuk ke dalam kategori macro-influencer.

Kelompok yang kedua ini bisa menjadi partner sangat potensial bagi brand yang menawarkan produk yang niche-nya sejalan dengan kepakaran si influencer.

Micro-Influencer

Kebanyakan micro-influencer ini biasanya orang-orang biasa dengan jumlah follower antara 1.000 sampai 40.000. Bukan selebriti baik papan atas, tengah ataupun bawah. Juga bukan orang yang tingkat kepakaranya pada niche tertentu dianggap sebagai referensi. Dengan jumlah followernya yang relatif terbatas, kebanyakan diantara mereka bahkan tidak berfikir untuk me-monetize followernya itu sebagai influencer.

Pada umumnya follower micro-influencer ini bukan fans seperti kebanyakan follower selebriti atau pengagum yang menjadi follower pakar terkemuka. Follower mereka biasanya orang-orang yang memang memiliki hubungan pribadi langsung dengannya, keluarga, kerabat, teman sekolah, teman kerja, teman kuliah, teman main, teman sehobi.

Mereka ini bukan sekedar tahu tapi kenal.

Karena kenal secara pribadi, biasanya tingkat kepercayaan terhadap saran dan pendapat micro-influencer ini jadi sangat tinggi. Misalnya saja, kamu mau beli handphone baru. Kamu lebih mendengarkan saran Cristiano Ronaldo, Deddy Corbuzier, Ellen May, atau teman sekantormu?

Nano-Influencer

Nano-influencer adalah kelompok influencer yang jumlah followernya paling kecil, kurang dari 1.000 orang. Dengan jumlah follower sekecil itu, kebanyakan nano-influencer bahkan tidak merasa kalau dirinya seorang influencer.

Kelompok terkecil ini dihuni oleh dua golongan. Pengguna baru di platform social media sehingga jumlah followernya belum banyak, dan mereka yang memiliki ruang minat sangat sempit, niche yang sangat spesifik. Orang-orang seperti ini biasanya hanya tertarik untuk berinteraksi hanya dengan mereka yang memiliki ketertarikan yang sama. Bahkan mereka yang dikenalnya secara pribadi di dunia nyata sekalipun tidak menjadi bagian dari jaringannya itu.

Berdasarkan Jenis Konten

Berdasarkan jenis konten kita mengenal diantaranya Blogger yang membagikan opininya dalam bentuk konten tekstual. Sepertinya blogger sebetulnya merupakan golongan digital influencer paling tua karena blogging sudah dikenal sejak sebelum kelahiran portal-portal social media seperti Twitter dan Facebook.

Ada Youtuber yang membagikan opininya dalam bentuk video. Sebetulnya ada sejumah portal lain yang juga spesifik disediakan untuk berbagi konten berbentuk video. Tapi seperti Google di antara search engine lain, Youtube merupakan penguasa pasar diantara platform berbagi video lainnya.

Ada juga Podcaster yang meskipun mungkin bentuknya video dan dibagikan melalui Youtube, konten mereka cenderung mengedepankan suara, baik monolog ataupun talkshow misalnya.

Dan yang paling banyak populasinya karena mereka bisa membuat dan membagikan aneka bentuk konten melalui platform-platform social media yang memang memungkinkan mereka untuk memposting aneka jenis konten, Influencer Social Media.

Berdasarkan Kekuatan Pengaruh

Influencer Selebriti

Sebetulnya asal-muasal influencer dibayar untuk mempromosikan brand dan memperkenalkan produk bermula dari influencer. Sampai sekarang masih banyak brand-brand besar menggunakan influencer selebriti. Salah satu alasannya adalah karena mereka yang mampu. Dengan nama besar yang harus dijaga kredibilitasnya dan jumlah follower yang sangat banyak, influencer selebriti bukan hanya mahal tapi sangat mahal.

Sementara di sisi lain profil follower selebriti adalah penggemar. Mereka tidak kenal secara pribadi dan belum tentu juga memiliki interest yang relevan.

Audience sekarang juga cenderung lebih sensitif sehingga. Bukannya percaya kadang malah curiga dengan produk yang direkomendasikan influencer selebriti. Mereka mulai belajar kalau seringkali influencer selebriti merekomendasikan produk bukan karena mereka puas dengan pengalaman menggunakannya tetapi semata-mata karena dibayar.

Akhirnya banyak brand menggunakan influencer selebriti hanya untuk tujuan membangun brand image yang “wow”. Sementara soal konversi menjadi penjualan terpaksa menggunakan pendekata lain.

Tapi ya nggak masalah, karena banyak juga brand yang rela membayar besar hanya untuk mendapatkan image “wow” itu.

Key Opinion Leaders (KOL)

Pernah mendengar istilah ini?

Key Opinion Leader adalah orang-orang yang pendapatnya dipercaya follower karena keahliannya. Tentu saja karena terhubung dengan keahlian pada tingkat yang cukup tinggi, KOL biasanya terhubung sangat erat dengan niche tertentu.

Contoh misalnya. Ada seorang artis ternama yang cantik jelita, berkulit mulus dan kinclong, dikenal gramor, tiba-tiba mempromosikan produk kecantikan yang brand-nya baru terdengar dan ternyata harganya juga murah. Bukannya percaya mungkin orang malah berpikir “Dari dulu dia kan udah kinclong!” atau mungkin “Mana mau dia pake produk skincare murah?” Orang jadi tahu merk dan produk itu, tapi nggak mau beli.

Bagaimana kalau produk yang sama diperkenalkan oleh seorang yang menyandang gelar dokter spesialis kulit dan biasa memberikan tips-tips yang terbukti ampuh untuk memperbaiki kekinclongan kulit wajah?

Tingkat kepakaran seorang KOL biasanya terbangun dan terkonfirmasi seiring berjalannya waktu. KOL bukan sesuatu yang instan. Tidak ada lembaga resmi yang menyandangkan predikat KOL kada seorang influencer. Kepercayaan follower yang terbangun perlahan itulah yang membuat seseorang menjadi KOL.

Meskipun begitu ada banyak cara agar seseorang bisa membangun brand imagenya sendiri menjadi KOL. Tidak harus dengan kuliah dulu sampai menyandang gelar akademis yang relevan dengan niche-nya koq. Setidaknya sering-seringlah membagikan konten bermanfaat yang relevan dengan niche itu.

By admin

3 thoughts on “Apa Itu Influencer?”

Comments are closed.